Posts Tagged ‘musik’

Mau Eksis, B3 Semakin Produktif

JAKARTA - Pasar musik Indonesia kian dinamis. Musisi baru pun muncul setiap waktu. Untuk tetap eksis, B Three (B3) mencoba kembali produktif.

“Musik sekarang itu semakin atraktif. Enggak muda, enggak tua, dari segi kualitas pun semakin dinamis,” papar Widi Mulia ditemui di Studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta, Kamis (18/3/2010).

Dia percaya, B3 memiliki keyakinan dan niat untuk tetap mempertahankan ciri khas dalam bermusik. “Kita pasti bisa melaluinya, jadi kita mengikuti zaman saja,” imbuhnya.

Menurut Widi, justru dengan adanya persaingan mereka semakin tertantang untuk bisa tetap eksis di blantika musik tanah air. “Yang penting menjaga produktivitas, enggak bisa dibuktikan hanya dengan segelintir orang,” tukas perempuan yang sedang mengandung anak keduanya.

Trio vokal yang awalnya mengusung nama AB Three sejak 1993, berganti personel pada 2000, dan kini berganti nama di awal 2009 menjadi B Three, memang lama vakum. Setelah berganti nama, kini Widi dan kawan-kawan kembali unjuk gigi dan mencoba tampil kembali.

“Produktivitas itu juga sangat mendukung,” pungkasnya.

(nov)

Debu Berinovasi dengan Freestyle Marawis

JAKARTA - Grup musik religi Debu akan memeriahkan Freestyle Marawis Competition (FMC). Vokalis Debu, Mustafa mengaku tertantang dengan adanya freestyle marawis ini.

“Terus terang saya belum dengar freestyle marawis, ini terobosan yg luar biasa,” kata dia ditemui di Cipete, Jakarta Selatan, Kamis (11/3/2010).

Mustafa menambahkan, selama ini marawis belum masuk ke dalam industri musik tanah air. Dia berpendapat jika marawis tetap memakai model lama, maka musik religi ini tidak berkembang.

“Kita salut pakai freestyle. Ini agak nakal sendikit, memang bagi anak-anak kalau memaksakan satu konsep, jadinya enggak bagus,” kata dia.

Dengan diberikannya kebebasan berkreasi di dalam marawis, Mustafa menilai tidak akan menghilangkan warna marawisnya. Justru menurutnya hal ini akan menghidupkan musik.

“Orang jadi terinspirasi bermusik terus,” tandasnya.

Debu mengadopsi konsep world music, dengan menggabungkan semua jenis musik. Tak heran, meski menyampaikan pesan religi, Debu sering diundang ke festival musik jazz di tanah air.

“Nanti kita akan menghadirkan suatu karya berbeda. Karena ini freestyle. Jadi musiknya lebih dinamis, di antaranya bermain gendang atas nama Tuhan,” pungkas Mustafa.

Freestyle Marawis Competition (FMC) akan dihelat dalam Festival Baitul Amin di Kompleks Surau Baitul Amin, Sawangan, Depok pada 14 Maret 2010. Selain itu akan digelar khitanan gratis bagi anak yatim piatu dan anak-anak dari keluarga tidak mampu.

(nov)

Bob James Dikenal Sebagai Penyanyi Smooth Jazz

Liputan6.com, Jakarta: Bob James bernama asli Robert McElhiney James merupakan penyanyi smooth jazz yang menggabungkan unsur musik R&B, funk, rock, and pop. Selain itu juga, Bob James, dikenal sebagai pemain keyboard jazz fusion atau jazz rock.


Sekitar tahun 1970-an, Bob James dikenal sebagai penyanyi jazz fusion, memainkan musik instrumentalia Anglea dalam serial TV komedi klasik “Taksi”. James juga bermain Jazz fusion klasik dalam lagu “Nautilus” dan “Westchester Lady”, yang kemudian menjadi bagian album kedua “James Bob James Three”.


James merupakan pendiri sekaligus anggota kelompok musik jazz smooth Fourplay dan merupakan Artis musisi Yamaha. Musik arransemen, Bob James, sangat dipengaruhi oleh musik dan film pop, hal ini terlihat saat James memberikan sentuhan musik jazz fusion kepada Grover Washington, Jr, Penyanyi jazz funk dan peniup Saxophone. Kemudian James makin dikenal musisi jazz fusi sejak tahun 1962, berkolaborasi musisi lain seperti Sarah Vaughan, Stanley Turrentine Milt Jackson.


Bob James bahkan diakui pecinta musik Jazz sebagai salah satu nenek moyang Smooth Jazz, dengan menghasilkan puluhan karya serta ratusan konser Jazz. James juga dikenal “berani” melakukan terobosan musik Jazz dengan mengeluarkan album Circle berkolaborasi dengan pemain Drum & Bass Inggris, Adam F dalam lagu “Westchester Lady” tahun 1992. selain itu lagu “Night on Bald Mountain” One, digunakan dalam videogame dan soundtrack film “God Hand”.


Bob James pernah meraih penghargaan Grammy Award dalam kategori Musisi Terbaik Pop Instrumentalia tahun 1981, dalam album One on One yang dirilis Bob James bersama Earl Klugh. Nantikan kepiawaian Bob James sebagai penyanyi jazz dalam Java Jazz 2010.(AYB)

Bob James Dikenal Sebagai Penyanyi Smooth Jazz

Liputan6.com, Jakarta: Bob James bernama asli Robert McElhiney James merupakan penyanyi smooth jazz yang menggabungkan unsur musik R&B, funk, rock, and pop. Selain itu juga, Bob James, dikenal sebagai pemain keyboard jazz fusion atau jazz rock.


Sekitar tahun 1970-an, Bob James dikenal sebagai penyanyi jazz fusion, memainkan musik instrumentalia Anglea dalam serial TV komedi klasik “Taksi”. James juga bermain Jazz fusion klasik dalam lagu “Nautilus” dan “Westchester Lady”, yang kemudian menjadi bagian album kedua “James Bob James Three”.


James merupakan pendiri sekaligus anggota kelompok musik jazz smooth Fourplay dan merupakan Artis musisi Yamaha. Musik arransemen, Bob James, sangat dipengaruhi oleh musik dan film pop, hal ini terlihat saat James memberikan sentuhan musik jazz fusion kepada Grover Washington, Jr, Penyanyi jazz funk dan peniup Saxophone. Kemudian James makin dikenal musisi jazz fusi sejak tahun 1962, berkolaborasi musisi lain seperti Sarah Vaughan, Stanley Turrentine Milt Jackson.


Bob James bahkan diakui pecinta musik Jazz sebagai salah satu nenek moyang Smooth Jazz, dengan menghasilkan puluhan karya serta ratusan konser Jazz. James juga dikenal “berani” melakukan terobosan musik Jazz dengan mengeluarkan album Circle berkolaborasi dengan pemain Drum & Bass Inggris, Adam F dalam lagu “Westchester Lady” tahun 1992. selain itu lagu “Night on Bald Mountain” One, digunakan dalam videogame dan soundtrack film “God Hand”.


Bob James pernah meraih penghargaan Grammy Award dalam kategori Musisi Terbaik Pop Instrumentalia tahun 1981, dalam album One on One yang dirilis Bob James bersama Earl Klugh. Nantikan kepiawaian Bob James sebagai penyanyi jazz dalam Java Jazz 2010.(AYB)

FullTrek, Portal Musik Telkom Didukung RRI



JAKARTA – Banyaknya penggemar musik di tanah air ternyata tidak diimbangi jumlah media musik yang memadai. Hal inilah yang kemudian membuat Telkom meluncurkan portal musik bernama Fulltrek.

“Kami hanya ingin membantu mempermudah para penggemar musik untuk mendengarkan lagu idolanya. Di Indonesia banyak pemusik dan penggemar musik namun medianya tidak begitu banyak,” ujar Direktur Consumer Telkom I Nyoman G Wiryanata, saat peluncuran layanan konten musik FullTrek.com di Gedung RRI, jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat, Rabu (3/3/2010) malam.

Portal ini melengkapi konten layanan musik yang dimiliki Telkom. Sebelumnya, Telkom pun meluncurkan situs musik di bawah naungan layanan Speedy Telkom bernama SpeedyTrek. Bedanya, menurut Nyoman, jika SpeedyTrek lebih menampilkan berita-berita seputar musik, dengan penyajian musik band-band indie, FullTrek lebih menampilkan musik dari label-label ternama, lengkap dengan versi lengkap lagu yang dapat diperdengarkan atau di download dan video yang dapat di lihat.

Selain menampilkan lagu yang bisa didownload melalui komputer dan ponsel, lagu-lagu tersebut juga bisa dinikmati secara streaming, download ringbacktone, true tone, dan lainnya. Anggota komunitas juga bisa membuat playlist berupa album digital serta dapat menuliskan lirik lagu favorit.

“Yang dibutuhkan hanya terhubung dengan koneksi internet. Portal ini juga akan menjadi daya tarik akses kecepatan Speedy yang menghadirkan musik dan video,” ujar Nyoman.

Ditambahkan Nyoman, pasar musik digital di Indonesia cukup besar dan memiliki prospek yang cerah. Ditambah dengan jumlah pelanggan Flexi yang hingga kini mencapai 15,5 juta dan pelanggan Speedy mencapai 1,2 juta.

“Jumlah pelanggan tersebut merupakan basis yang prospektif untuk memasarkan musik dan berbagai konten digital lainnya,” ujar Nyoman.

Dalam peluncuran portal musik, Telkom juga menandatangani nota kesepahaman dengan Radio Republik Indonesia (RRI) yang menyepakati aktivitas digitalisasi kontan yang dimiliki RRI secara nasional. Konten tersebut berupa liputan khusus, karya musik lokal dan etnis daerah, serta konten RRI lainnya yang akan ditampilkan bersama dalam portal FullTrek ini.

Sayangnya, Nyoman enggan menyebutkan biaya Telkom yang diambil untuk mendanai portal ini. Yang jelas, dana tersebut diambil dari kas layanan VAS Telkom yang jumlahnya tidak banyak. (srn)





Pasha Pikir-Pikir Bikin Album Solo

“Semua vokalis pasti ingin membuat album solo, cuma gue belum tahu kapan waktunya,” kata Pasha ditemui okezone di Jakarta International Event and Convention Centre (JITEC) Mangga Dua, Jakarta, belum lama ini.

Mantan suami Okky Agustina ini mengatakan, kariernya di dunia musik masih 100 persen dicurahkan pada grup band Ungu. Menurutnya, Ungu masih bisa eksis 5 tahun ke depan.

”Mungkin 5 tahun lagi Ungu masih eksis. Kalau 10 tahun lagi, gue enggak tahu karena umur sudah 40-an tahun,” celetuk Pasha.

Sementara di acara Dahsyatnya Awards 2010, Pasha sukses membawakan lagu Chrisye bersama Giring, Charlie, dan Ryan. Selain menyanyi, mereka juga unjuk kebolehan bermain musik.

Aksi mereka berempat tampaknya menuai sikap positif dari pencinta musik. Banyak orang lantas berspekulasi mereka akan membuat grup band untuk menyaingi The Dance Company, yang dinahkodai musisi ternama Nugie, Baim, Aryo Wahab, dan Pongki.

Menanggapi isu tersebut, Pasha angkat bicara. ”Enggaklah. The Dance Company sudah luar biasa,” katanya.

Pasha menegaskan, dia mungkin saja berkolaborasi membuat karya musik bersama Giring, Ryan, dan Charlie kelak. Pasha beralasan, biasanya hal-hal besar itu lahir dari ide-ide yang asal-asalan, apalagi grup band kami juga satu label.

Terkait dengan performa di acara itu, Pasha mengaku baru pertama kali tampil bersama dan memainkan alat musik drum.

”Ini merupakan pengalaman pertama gue. Asyik aja buat lucu-lucuan,” tukasnya. (tty)

OFF STAGE : Five Minutes: Ternyata Banyak yang Pro

JAKARTA, KOMPAS.com — Band asal Bandung Five Minutes, yang terdiri dari Richie (vokal), Ricky (keyboard), Drie (bas), Roelhilman (gitar), dan Aria (drum), sejak berdiri pada 1994 hingga kini telah melalui pergeseran idealisme bermusik. 

Five Minutes telah merombak warna musik mereka. “Kalau dulu itu kan pop 1990-an banget,” ungkap Ricky saat ditemui usai mengisi sebuah acara musik layar kaca di Jakarta, Kamis (25/2/2010). 

Lanjut Ricky, perubahan warna musik Five Minutes disebabkan oleh masuknya tiga personel baru. “Berhubung ada tiga personel baru, otomatis 60 persen berubah warnanya,” jelas Ricky. 

Hasilnya, musik rock romantic pun menjadi warna baru Five Minutes. “Namanya rockmantic, musik rock yang berbalut lirik romantic,” papar Ricky. 

Tak ditampik oleh Ricky bahwa perubahan warna musik Five Minutes sangat diperlukan demi adaptasi terhadap pasar musik. “Ya, betul, karena saat ini band yang mempertahankan idealisme itu akan sedikit susah untuk hidup. Nah, Five Minutes ini berusaha menyeimbangkan antara idealisme dengan pasar,” tekannya. 

Namun, meski beradaptasi dengan selera pasar, Five Minutes enggan terbawa arus sepenuhnya. “Kami enggak mau terbawa arus ke musik yang gampangan dan cemen. Kami seimbangkan kualitas musik,” tegas Ricky.

Dengan pertimbangan tersebut, awalnya tak mudah untuk melakukan perubahan warna musik Five Minutes. “Memang, waktu perombakan jenis musik itu banyak pro-kontra. Tapi, sekarang, sudah jalan empat tahun, ternyata banyak yang pro,” imbuh Ricky. (C7-09)

Muse Berselisih Pendapat dengan Label

Liputan6.com, Inggris: Muse merasa kecewa jika musik mereka dicabut dari situs internet streaming gratis, Spotify. Mereka juga menuding industri musik “mencengkeram dalam sedotan” demi mengeruk untung. Kelompok musik itu tak senang dengan proposal perusahaan rekaman mereka, Warner Music, untuk menyetop lisensi pada Spotify karena Muse takut hal itu akan mengurangi jumlah penggemar.


Bassis Muse, Chris Wolstenholme mengatakan, “Ini seperti menarik lagu dari radio, bukan? Anda akan langsung menarik lagu dari kelompok pendengar potensial. Sejauh ini, band hanya ingin penggemar dapat mendengar musik dengan cara apapun. Kadang-kadang saya merasa bahwa seluruh batasan yang ditetapkan pada musik Anda, bukan berasal dari band itu sendiri, melainkan perusahaan-perusahaan di baliknya.”


Wolstenholme mengeluarkan komentar setelah bos Warner Musik Edgar Bronfman menyatakan bahwa layanan streaming tidak positif bagi masa depan industri musik. “Layanan streaming gratis jelas tidak positif bagi industri dan sejauh Warner Music peduli pada lagu yang tidak berlisensi,” kata Edgar.(Contact Music/YUS)

Telkom Perkenalkan Situs Musik



JAKARTA – Telkom memperkenalkan sebuah portal musik bernama fulltrek.com. Melalui situs ini, Telkom mengklaim pihaknya turut berpartisipasi memajukan industri musik dan mengurangi pembajakan.

Fulltrek.com yang masih dalam versi beta, merupakan layanan musik digital legal yang menyediakan fungsi unduh lagu dalam format full track, Ring Back Tone (RBT), video musik dan ringtone.

“Fulltrek.com merupakan salah satu bukti keseriusan Telkom untuk memasuki bisnis konten,” kata Vice President Public and Marketing Communication Telkom Eddy Kurnia.

Fulltrek.com diperkenalkan Telkom dalam acara final ‘Fulltrek Karaoke Contest’ bekerjasama dengan RPM (Royal Prima Musikindo) yang diselenggarakan di Grand Indonesia, Jakarta, Sabtu (20/2/2010) malam.

Selain menjadi ajang pengenalan Fulltrek.com, acara ini juga menjadi platform sarana pengembangan industri kreatif di bidang musik, serta mencari bibit penyanyi yang unggul dalam bernyanyi melalui ajang karaoke.

Pada tahap perkenalan, fulltrek.com bekerjasama dengan berbagai label musik Indonesia dan para penyedia konten menyediakan 13 ribu koleksi lagu. Fulltrek.com juga menggundang semua komunitas musik Indonesia untuk bekerjasama membangun industri musik Indonesia melalui fasilitas online digital musik di fulltrek.com.

Untuk menikmati layanan ini, pelanggan hanya perlu terhubung dengan internet kemudian memilih lagu yang diinginkan. Lagu yang telah dipilih bisa diunduh di komputer, ponsel, ataupun dinikmati secara online melalui fasilitas streaming music. Selain mengunduh lagu, terdapat pula layanan unduh RBT, true tone dan lainnya. Para komunitas pencipta musik, juga dapat membuat play list berupa album digital serta dapat menuliskan lirik lagu favorit. (rah)





Kotak Hipnotis Penggemar di TIM

Liputan6.com, Jakarta: Grup musik Kotak menggelar konser musik bertajuk Mini Concert Private di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Dalam konser tersebut, grup musik beraliran rock ini mengusung tema akustik dan band yang tentunya juga mengikutsertakan nuansa rock yang menjadi ciri khas band ini. Dari tatanan rambut hingga baju para personel, seolah konser ini benar-benar merepresentasikan jiwa Kotak.


“Kita ngusung dua konsep, ada akustik sama band. Kalau yang nge-band, itu yah bajunya band banget. Akustik kita lebih yang natural rock,” ungkap Tantri, vokalis Kotak, seperti dilansir acara infotainment Halo Selebriti, Kamis (18/2). Grup musik yang sudah meluncurkan tiga album ini pun berhasil menghipnotis para penggemarnya di TIM.


Keempat personel tampik enerjik. “Sebenernya tuh kita konsepnya santai sih. Niatnya juga buat silaturahmi dan bertemu langsung dengan para penggemar kita,” kata Tantri. Sekadar informasi, nama Kotak diambil dari bentuk geometri yang memiliki empat sisi. Keempat sisi dan sudut dalam bentuk bangun ini melambangkan empat personel yang berbeda karakter. Namun demikian mereka bersatu dalam musik.(AYB)